-->
  • Jelajahi

    Copyright © PASUNDAN POS | KRITIS, NASIONALIS, RELIGIUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    PASUNDAN POS

    Apa Arti Serangan Kilat ke Israel

    PASUNDANPOS.com
    Senin, 15 April 2024, 15:00 WIB Last Updated 2024-04-15T08:00:05Z

    Oleh : Dina Y. Sulaeman (dosen Hubungan Internasional Unpad)

    Seorang penulis bernama Pizaro Gozali Idrus (PGI) menulis tulisan berjudul ““Apa Arti Serangan Kilat ke Israel.” Berikut ini tanggapan saya atas tulisan itu dan di akhir, saya akan memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut, versi saya.

    1. PGI membandingkan serangan Iran dengan Hamas, ini tidak apple to apple. Iran adalah negara berdaulat, anggota PBB, sementara Hamas adalah organisasi perjuangan Palestina. 

    PGI seolah berharap Iran turun langsung ke Gaza, sungguh ekspektasi aneh, tidak menghitung kalkulasi perang yang rasional.  Bagaimana mungkin pasukan Iran bisa datang 2000 km ke Gaza dengan membawa segenap persenjataannya, sementara negara-negara Arab di sekeliling Palestina bahkan kerjasama dengan AS dan Israel? Di mata PGI, mereka seolah “bebas tugas” (yang bertugas memerangi Israel hanya Iran).

    2. Adanya komunikasi dengan AS didasarkan pada klaim AS sendiri. Tidak ada bukti. Fakta bahwa AS dkk mencegat drone tempur Iran, mengapa harus diartikan “ada komunikasi”? Mengapa tidak dimaknai, betapa munafiknya AS dkk (termasuk Jordan), selama 6 bulan terakhir mereka tidak menggunakan kekuatan mereka untuk menghentikan kejahatan Israel tapi ketika Israel diserang, mereka langsung pakai senjata mereka?  Iran sudah mengancam membalas sejak 1 April dan AS dkk sudah siap siaga sejak itu. 

    Iran secara terbuka juga menyatakan sudah memperingatkan negara-negara di kawasan bahwa ia akan menyerang, dan mengancam mereka agar tidak membantu Israel. Mengapa ini harus dimaknai sebagai bentuk “kerja sama dengan Israel”? Bukankah ada opsi makna lain: ini dilakukan justru agar tidak jatuh korban sipil, berbeda dengan AS & Israel yang main gempur secara semaunya dan jika ada korban sipil tak berdosa, mereka kasih istilah 'collateral damage.'

    3. Iran disebut tidak well prepared. Apakah drone tempur dan berbagai jenis rudal yang mampu mencapai 2000 km itu dibuat dalam 1 malam? Dalam keadaan diembargo puluhan tahun oleh AS, saintis-saintisnya dibunuhi oleh Mossad, Iran masih bisa mengembangkan teknologi militer secara mandiri yang digunakan untuk menyerang Israel. 
    Pembandingan well prepared antara Hamas dan Iran, sungguh lucu. Bukankah Iran -seperti diakui terbuka oleh Hamas dan PIJ-  yang menyuplai senjata, termasuk rudal, mengajarkan teknologi pembuatan senjata kepada pejuang Palestina?

    4. PGI memakai asumsi ilusi dan konspiratif yang sudah basi: "Iran di balik layar berkerja sama dengan Israel." Di titik ini, mau dijawab dengan data apapun, akan ditolak PGI, karena otaknya sudah penuh ilusi. PGI selalu mngutip buku Trita Parsi yang ia terjemahkan, entah akurat atau tidak terjemahannya. Buku itu berasal dari disertasi T. Parsi dan saya baca naskah disertasinya itu, sama sekali bukan teori konspirasi seperti yang digambarkan PGI. T. Parsi di universitas di AS, meneliti dengan setting masa-masa awal tergulingnya Shah denga narsum sekunder. Sekarang sudah tahun 2024. Basi sekali.

    5. Iran tidak menggunakan proxy, seperti kata PGI. Tapi, Iran membantu perjuangan bangsa-bangsa tertindas di tanah mereka sendiri (misalnya, membantu Hizbullah melawan Israel yang menjajah Lebanon; membantu Ansharullah Yaman yang melawan agresi Saudi-UAE dibantu AS & Inggris; membantu rakyat Irak melawan ISIS & melawan pasukan AS yang bercokol di Irak; dan membantu Hamas dan milisi-milisi pejuang Palestina lain dalam melawan Israel). Iran berkali-kali menyatakan mereka bukan proxy (kaki tangan) tetapi partner dalam melawan musuh yang sama: AS dan Israel.

    6. Iran tidak membutuhkan sekutu China atau Rusia karena selama ini berjuang dengan visi-misinya sendiri sebagai tercantum di UUD mereka (melawan mustakbirin/membela mustadhafin). Bahwa Iran melakukan langkah-langkah diplomasi, menjalin dukungan dari sebanyak mungkin negara, adalah hal yang WAJAR. Kalau AS menggalang  dukungan negara-negara lain (terutama negara-negara monarkhi Arab) untuk membela Israel, apa yang salah dengan Iran mendekati negara-negara lain untuk ikut sama-sama membantu Palestina? 

    7. Di akhir, PGI menulis bahwa Iran & "rezim" Assad melanggar HAM di Suriah. Poin ini mengungkapkan JATI DIRI si penulis yang sesungguhnya: seorang TAKFIRI pendukung terorisme di Suriah. Yang terjadi di Suriah adalah perang antara ISIS, milisi afiliasi Al Qaida, dan milisi afiliasi Ikhwanul Muslimin yang melakukan aksi-aksi teror demi tujuan politik mereka: menggulingkan pemerintah Suriah yang terpilih secara demokratis, untuk diganti menjadi negara khilafah. Dengan posisi ini, menjadi jelas, dia sangat bias, analisisnya bukan didasari teori-teori HI atau geopolitik, tapi didasari asumsi ilusi dan kebencian teologis.

    Sekarang, apa sebenarnya “arti serangan kilat Iran ke Israel”? Menurut saya:

    1.Memberi pelajaran dan bukti kepada Israel dan dunia bahwa Israel bukanlah militer yang tak terkalahkan. Iron Dome terbukti rontok, oleh kecerdasan, strategi jitu, dan keberanian. Ini menciptakan ekuasi (keseimbangan) baru secara geopolitik. 

    2.Keberanian Iran (dan keoknya Iron Dome) seharusnya menjadi inspirasi kepada rezim-rezim Arab dan Turki, bahwa mereka seharusnya berani melawan tekanan AS dan Israel. Asal berani dan bersatu, Israel bisa dikalahkan.

    3.Membuka topeng rezim-rezim Arab & Turki, para influencer, para pengamat: mana yang benar-benar membela Palestina, mana yang retorika belaka.

    Komentar

    Tampilkan

    BERITA TERKINI