-->
  • Jelajahi

    Copyright © PASUNDAN POS | KRITIS, NASIONAL, RELIGIUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    PASUNDAN POS

    Mahasiswa Jawa Barat Ajak Warga Tolak Politik Dinasti

    PASUNDANPOS.com
    Senin, 15 Januari 2024, 09:58 WIB Last Updated 2024-01-15T02:58:42Z

    PASUNDAN POS | JAKARTA — Ratusan mahasiswa dari ratusan kampus di Jawa Barat mengajak masyarakat untuk menolak secara tegas praktik politik dinasti di Indonesia. 

    Mahasiswa menunjukkan keberpihakan terhadap rakyat, melalui kegiatan bagi-bagi selebaran berisi ajakan kepada masyarakat untuk menolak politik dinasti di Indonesia, kemarin.

    Aksi bagi-bagi selebaran ini dimulai tepat pukul 11.00 WIB di depan kampus masing-masing di seluruh Jawa Barat. 

    Koordinator aksi mahasiswa dan kampus se-Jawa Barat, Rizki Bani menegaskan, aksi ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya, dalam menyikapi situasi nasional yang sedang berkembang saat ini. 

    "Tidak hanya di Jawa Barat tetapi mahasiswa seluruh Indonesia pun hari ini bergerak," tuturnya.

    Aksi bagi-bagi selebaran ini dimulai tepat pukul 11.00 WIB di depan kampus masing-masing di seluruh Jawa Barat. Koordinator aksi mahasiswa dan kampus se-Jawa Barat, Rizki Bani menegaskan, aksi ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya, dalam menyikapi situasi nasional yang sedang berkembang saat ini. 

    "Tidak hanya di Jawa Barat tetapi mahasiswa seluruh Indonesia pun hari ini bergerak," tuturnya.

    "Kami menuntut dan menolak serta mengajak seluruh mahasiswa dan juga masyarakat Indonesia untuk tidak memilih orang yang terlibat dalam politik dinasti dan punya sejarah masa lalu yang kelam, yaitu penculikan terhadap aktivitas demokrasi," sambung Rizki menerangkan.

    Rizki menambahkan, politik Dinasti adalah ancaman bagi demokrasi. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk terbuka matanya menolak hal tersebut. "Kita juga tidak boleh memilih pemimpin yang mempunyai masa lalu yang kelam atas pelanggaran HAM juga penculikan para aktivis di era 98," tegasnya.

    Rizki menyebutkan, aksi serupa juga dilakukan di banyak daerah dan kota. Sampai hari ini, ia mengatakan lebih kurang ada 800 kampus di 35 provinsi di Indonesia. 

    “Teknisnya memang beda-beda, dalam selebaran poster yang dibagikan itu, terdapat data-data dan fakta-fakta sejarah yang dikumpulkan dari beberapa media," pungkas Rizki. 

    Komentar

    Tampilkan

    BERITA TERKINI