Temuan Dugaan Fragmen Fosil Plesiosaurus di Grobogan, Begini Penjelasan Bakonardes
Font Terkecil
Font Terbesar
PASUNDAN POS ■ GROBOGAN — Penemuan yang diduga sebagai fragmen fosil reptil laut purba mengemuka dari wilayah Grobogan. Pendiri Balai Konservasi Artefak Desa (Bakonardes), Dani Satria (34), belum lama ini menyampaikan adanya temuan yang sementara diidentifikasi sebagai bagian gigi dari Plesiosaurus, kelompok reptil laut berleher panjang yang hidup pada era Mesozoikum.
Temuan ini menambah daftar indikasi bahwa wilayah Jawa Tengah pernah berada di bawah laut purba.
Menurut Dani Satria, fragmen tersebut ditemukan di antara pecahan batu kapur keras yang telah terfragmentasi secara alami. Struktur batuan yang retak dan terpisah membuka kemungkinan terperangkapnya sisa-sisa organisme purba di dalamnya. Secara morfologis, fragmen yang diduga menyimpan pangkal gigi ini memiliki ciri menyerupai gigi besar predator laut dengan bentuk penampang email gigi (enamel).
Secara ekologis, Plesiosaurus dikenal sebagai penghuni laut dangkal yang aktif berburu ikan dan hewan bertubuh lunak seperti Cephalopoda, termasuk cumi-cumi purba. Reptil ini memiliki leher panjang dan tubuh streamline, memungkinkan manuver efektif saat berburu di perairan pesisir. Mereka diperkirakan punah pada akhir periode Kapur Akhir, bersamaan dengan peristiwa kepunahan massal yang mengakhiri dominasi dinosaurus.
“Dugaan keterkaitan dengan Plesiosaurus juga diperkuat oleh temuan sebelumnya di wilayah Grobogan, yakni fosil yang diduga merupakan bagian kaki dari kelompok Dyrosauridae. Kelompok ini merupakan kerabat buaya laut purba yang hidup pada rentang waktu yang beririsan dengan plesiosaurus, sehingga memungkinkan keduanya pernah berbagi ekosistem yang sama di perairan purba Jawa,” kata Pendiri Balai Konservasi Artefak Desa (Bakonardes), Dani Satria (34), di Grobogan, Jawa Tengah, pada Rabu (06/05/2026)
Selain itu, keberadaan fosil Nummulites di lokasi yang sama menjadi indikator penting kondisi lingkungan masa lalu. Nummulites merupakan foraminifera berukuran relatif besar yang umum ditemukan di batuan laut dangkal. Kehadirannya menguatkan interpretasi bahwa area tersebut dahulu merupakan lingkungan laut dangkal, yang sesuai dengan habitat alami plesiosaurus.
“Kombinasi antara struktur batu kapur, keberadaan Nummulites, serta morfologi fragmen fosil memberikan dasar awal yang cukup kuat untuk hipotesis ini. Namun demikian, diperlukan analisis lanjutan seperti uji petrografi, komparasi morfologi detail, hingga kemungkinan uji laboratorium untuk memastikan identitas spesimen secara ilmiah,” imbuh Dani.
Menurut Dani, penemuan ini berpotensi membuka peluang baru dalam kajian paleontologi di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah yang selama ini belum banyak tereksplorasi secara intensif dalam konteks reptil laut purba. Jika terkonfirmasi, temuan ini tidak hanya memperkaya data keanekaragaman hayati masa lampau, tetapi juga memperkuat pemahaman tentang dinamika ekosistem laut purba yang pernah berkembang di kawasan Nusantara. (boa)
.jpeg)